Motivasi dari Sekolah yang Tertunda
Karena kepentingan tempat Ayahnya bekerja Bidadariku yang Kedua Arifa terpaksa harus keluar dari Play Groupnya di TK Aisyiyah. Karena belum ada dan tidak ada fasilitas pindah Play Group dari Denpasar ke Mataram. Karena alasan tanggung juga akhirnya Ibundanya yang cantik meneruskan cita-cita Bidadariku agar bisa cepat membaca belum genap 4,5 tahun akhirnya dengan terbata-bata mampu membacakan cerita buat kami semua, orang-orang yang Arifa cintai tentunya.
Lama juga menunggu janji karena Ayahnya terlalu bersemangat men-support agar bisa membaca akan dihadiahkan tempat play group yang baru di TK Aisyiyah Mataram. Kemaren setelah membaca buku cerita mini dan belajar mengenal angka dan berhitung Bidadariku bertanya: Adik sekarang sudah bisa membaca sekarang tinggal kapan Ayah daftarin adik deh ke sekolah Te Ka?
Ternyata: Motivasi bisa mengalahkan segala kesulitan!
Efek Basah
Tanggal 20 Juni 2007
Saya mendapat tugas Audit di Negara, ibu kota Kabupaten Jembrana, Bali. Karena jarak tempuhnya yang jauh dari Denpasar sekitar 3 jam. Kami menginap. Sore hari menjelang maghrib kami berempat satu tim jalan-jalan menjaring pemandangan sejuk kota sore hari.
Hari itu hujan baru saja menghentikan tetesan rahmatNya. Jalan berlubang karena perbaikan penuh dengan air di sana sini.
Belum selesai menghabiskan rokok temen-temen mengajak pindah tempat, dengan seijin mereka saya tetap merokok di dalam mobil. Pintu jendela pun dibuka biar udara tidak pengap.
Tiba-tiba sebuah bis Denpasar-Jakarta melintas dengan cepat di sebelah kanan mobil kami. Dan…Airpun bergolak indah bak kembang api tahun baru terlindas roda nakal bis malam. Tanpa ampun, air beraroma sedap, sesedap capucino tertuang ke dalam mobil melalui sela sela jendela. Bermandilah kita dengan air coklat itu.
“Maafkan saya teman teman,” memelas saya memohon dengan tulus. Permohonan saya tertelan luapan tawa dan makian canda. Ah baru tahu saya kalau merokok bisa menimbulkan efek basah. Itulah pertama dan terakhir saya merokok dalam mobil.
Meja Kardus
Saat ini, saya betul trenyuh dan bangga. Kalau rumah kardus mungkin sudah biasa ada di kalangan kaum marjinal. Sekarang sayapun jadi termarjinal oleh keadaan.
Betapa tidak karena tugas mendesak status saya sebagai karyawan yang mengikuti crash program praktik kerja lapangan saya di pindah ke lain pulau dimana keluarga saya tinggal. P Bali. Indah memang, bukan saja alamnya yang bersahabat juga budayanya yang memikat.
Sayang disayang bantuan pemondokan pkl yang diberikan perusahaan tidak bisa bersahabat dengan Denpasar, kota di mana saya harus tinggal selama 2.5 bulan. Terpaksa saya harus tinggal di kost kosongan tanpa isi apa-apa hanya ruangan dan kamar mandi di dalam.
Untuk menyiasati pekerjaan yang harus saya bawa pulang harus tercipta sebuah meja. Jadilah kardus-kardus dibungkus kertas kado jadi meja cantik. Sedihkah saya? Ternyata saya malah geli memandangnya. Meja kardus ha ha. Ada-ada saja ide temen saya. Memang hidup di Bali harus menyatu dengan budayanya. Seunik meja kardus?
Belikan Adik Kaki untuk Kucing
Arifa, bidadari saya yang nomor dua, sering kali mengungkapkan kata hatinya dengan gaya khasnya. Seperti pagi itu, tiba-tiba saja tidak seceria hari-hari biasanya. Dia agak termenung, dan lama terdiam. “Ada apa Dik?” lalu dia bercerita kalau dia ingin dibelikan sebuah kaki. Saya kaget. Kenapa bidadariku yang cantik menginginkan sebuah kaki. Kaki Barbie? Bukan! Adik mau Ayah belikan satu kaki untuk kucing. Lho.. Bukannya kucing sudah punya empat kaki? Itu! Katanya sambil menunjuk iba seekor kucing yang berkaki tiga. Berlari mengejar ketertinggalan saudara-saudaranya yang memiliki kali lengkap. Seandainya saja ada yang menjual sebuah kaki untuk menyenangkan hati bidadari saya yang cantik tentu sudah saya carikan dengan cara apapun. Sayang sekali dalam hidup kita harus bersyukur dengan keterbatasan dan kemampuan. Seperti bidadari saya itu. Suatu saat kalau dia ingat kejadian itu pasti akan bahagia dengan keinginannya yang mulia. Membelikan sebuah kaki untuk seekor kucing yang berbahagia berkaki tiga.
Jarak dan Tekhnologi
Ini kesekian kalinya karena tugas perusahaan saya harus berpisah untuk beberapa bulan dari keluarga. Tapi berbeda dengan beberapa waktu yang lalu ketika teknologi komunikasi masih seadanya (untuk daerah tertentu memang sangat jauh berbeda dibanding dengan kota-kota lain di Indonesia). Sekarang dimensi jarak itu hampir tidak ada suara istri dan anak-anak bisa terdengar kapan saja. Rekaman Video anak-anak bisa diupdate kapan saja. semua karena budaya baru bernama teknologi komunikasi.
Namun jarak tetap ada, bukan dalam arti nyata. Jarak sekarang bisa jadi lebih berada pada dimensi waktu. Ada jarak pada satuan waktu. Jam biologis akan berubah sesuai kebutuhan. Ketika kesempatan untuk tidur dalam rentang waktu yang menyempit dan pergeseran waktu yang berbeda. Ditambah lagi faktor biaya yang harus diperhitungkan. Kualitas komunikasi akan berubah bukan soal teknologinya. Tetapi dimensi waktu.
Kemarin saya mendapatkan protes keras dari Istri dan kedua anak saya. Karena kebutuhan yang tidak bisa digeser. Pola tidur saya berubah. Pukul 00.00 mulai tidur, pukul 04.00 bangun untuk mempersiapkan tugas. Usai sholat Subuh saya tidur lagi. Kesempatan bertemu anak-anak saya tidak memungkinkan karena jam-jam ini anak-anak masih tidur. Ketika pukul 06.30 saya bangun kembali Novi, anak saya yang pertama sudah masuk sekolah. (Oh ya ada perbedaan waktu antara tempat tugas saya dan keluarga saya berada. Tempat saya 1 jam lebih lambat.) Dan hampir satu minggu tidak pernah bisa bertemu Novi. Apesnya lagi ketika liburpun saya telat bangun. Jam 06.30 pertemuan itu terpaksa mundur. Dan melayanglah protes keras itu.
Ketika pertemuan itu saya hanya bisa berucap, “Maafkan keterlambatan ayah sayang ya?”
Dan kesedihanpun muncul Novi ngambek dan memboikot pertemuan-pertemuan berikutnya diikuti Arifa, anak saya yang kedua.
Teknologi ternyata belum bisa menyamakan jarak waktu.
-
Recent
-
Links
-
Archives
- November 2008 (1)
- June 2007 (2)
- May 2007 (1)
- March 2007 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS